Khasmir! Membayar Rasa Penasaran

Sudah lama Khasmir menjadi salah satu wishlist tujuan ngebolang Indro, kawanku. Awalnya aku dan yg lainnya masih sering bertanya ada apa sih di Khasmir? kenapa ga ke tempat lain aja semisal Maroko atau Peru (jauh ya kalau ini, hehe). Tapi sepertinya si Indro ini pantang menyerah, berkali2 dia posting foto2 keindahan Khasmir ke grup kami sampai pada akhirnya surpriseeeeee, Thai Airways ada promo tiket PP dari Singapore ke New Delhi. Tanpa ba-bi-bu Indro langsung booking tiket untuk kami berenam ke New Delhi lanjut ke Srinagar (Khasmir).

Penerbangan kami ke India mungkin terbilang melelahkan, namun asyik bagiku karena transit di Changi dan di Suvarnabhumi yang itu berarti aku bisa spotting pesawat2 yg ga ada di Indonesia macam Fiji Airways, Uzbekistan Airways, El AL Airlines, Astana Airlines, Ural Airlines (yes I’m an #Avgeek). Pertama dikarenakan promo Thai Airways nya dari Singapore, jd kami harus berangkat ke Singapore dulu dan kemudia lanjut dg Thai Airways transit di Suvarnabhumi baru cus ke New Delhi. Penerbangan dari BKK ke DEL memakan waktu kurang lebih 4 jam.

Jam 9 malam, Thai Airways TG 315 Boeing 777-200 pun mendarat dengan mulus di Indira Ghandi  International Airport. Dikarenakan sudah malam, maka kami pun memutuskan mencari hostel dekat dengan New Delhi Metro Station untuk berisitirahat guna melanjutkan perjalanan ke Agra keesokan harinya. Cerita tentang Agra akan aku bahas di postingan lain.

Tiket berangkat edit

Boarding Pass berangkat

 

Jadwal ke Srinagar seharusnya jam 12.15 menggunakan Jet Airways. Tapi ternyata pas web check in dapat info penerbangan delay sampai jam 14.50. Penerbangan Delhi – Srinagar ditempuh kurang lebih 1,5 jam dengan variasi turbulence yang bikin hati dag dig dug serasa mau ngedate sama Mbak Maudy Ayunda. Tapinya kalau sudah hampir mendekati Srinagar, view gunung2 bersalju bakalan memanjakan kedua mata kita, tapi pastikan duduk di window seat sebelah kanan/ F.

Begitu sampai Srinagar International Airport, foreigner diwajibkan mengisi form kedatangan di counter khusus sebelum pintu keluar. Jika datangnya rombongan hanya perlu mengisi satu form dan menuliskan nama, no passport, no e-visa, tanggal kadaluarsa passport di halaman belakang formnya. Setelah beres ngisi kita baru dipersilahkan keluar dari bandara. Jangan takut, meski banyak petugas bersenjatan, rata2 petugasnya ramah dan mau membantu, bahasa Inggris mereka juga bagus.

Begitu keluar, Mr Latif pemilik Goona Palace Boat House tempat kami menginap sudah menunggu di depan, nah disini yang harus hati2, begitu keluar bandara untuk menuju parkiran akan banyak orang yang mendekati kita tiba2 membantu kita membawa tas kita atau mendorong trolly kita. Sebisa mungkin kalau ga nyaman segera ditolak, karena nantinya meski kita ga minta dia bantu, dia akan meminta tip karena (menurut mereka) kalau kita tidak menolak sedari awal dianggap kita butuh bantuan mereka.

Perjalanan dari bandara menuju ke Boat House di Dal Lake, memakan waktu kurang lebih 20 menit. Jangan heran, di sepanjang jalan akan menemui banyak tentara India berpatroli menenteng senjata laras panjang. Tau sendiri kalau Khasmir sering meminta merdeka sehingga kawasan itu dijaga ketat oleh tentara India. Tapi selama kita g ada niat buruk dan bertingkah tidak sopan tidak masalah. Begitu sampai di Dal Gate, mata kita akan dimanjakan pemandangan yang aduhai, boat house berjejer rapi di danau, burung-burung berkicau sepanjang hari, perahu (shikara) yang lalu lalang di danau, dan background pegunungan bersalju yang menambah nilai eksotis Srinagar.

IMG_5532

Dal Lake, Boat House & Shikara

Oh ya, awalnya sih kami ga bikin itinerary untuk di Khasmir, cuma hanya pengen ke beberapa tempat seperti Kebun Tulip, Sonamarg, Gulmarg dan Pahalgam. Tapi setelah berbincang2 dan tawar menawar dg Mr Latif yang kebetulan menawarkan paketan ke tempat2 tadi, akhirnya kita dibuatkan jadwal oleh Mr Latif yg sangat flexible sesuai dengan keinginan kita.

Srinagar

Itinerary Dadakan

Hari pertama di penginapan, kita bisa melihat sunset di dal lake dg latar Gulmarg yang tertutup salju. di Srinagar, Matahari tenggelam sekitar pukul 19.00 dan mulai saat itu lah udara dingin menyelimuti seluruh kota Srinagar. Makan malam kami istimewa, karena Mr Latif menyediakan nasi safron, roti naan, kare ayam, sup jagung kental, ditambah kopi dan teh khas Khasmir. Dikarenakan perbedaan waktu yg sangat mencolok, seperti maghrib jam 19.00, Isya jam 20.30, maka kami memutuskan untuk istirahat dan tidak keluyuran supaya besok paginya bisa fit maen salju.

IMG_5531

View Sunset dari anjungan Goona Palace Boat House

Oh ya yang perlu diperhatikan saat berada di Khasmir :

  1. Mata uang menggunakan India Rupee, tapi kebanyakan Boat House menerima pembayaran dengan mata uang USD, GBP.
  2. Pembayaran Boat House bisa gesek, asal jaringan internet ga bermasalah
  3. Jaringan internet disana bisa dikatakan buruk, kadang sehari dimatiin sm pemerintah dan hanya dihidupkan saat pagi dan malam
  4. Kartu debit BNI g bisa buat narik uang di ATM sana, entah kenapa.
  5. Cuaca bulan April bisa sangat dingin di pagi, sore, malam dan panas di siang hari.

 

 

(bersambung)

Iklan

Bandar Seri Begawan, Mematahkan Mitos Yang Salah

Bandar tempat berdirinya Istana Nurul Iman milik salah satu orang terkaya di dunia ini benar2 kota yang kelewat rapi dan tenang. Tidak banyak manusia maupun mobil yang berlalu lalang. Lewat jam 8 malam pun jalanan sudah sepi. Uniknya, di Bandar Seri Begawan ini kita masih bisa melihat kera2 liar berkeliaran di tengah kota, kawanan Bekantan yang hidup liar dan malu2 ketika didekati Manusia, serta Buaya Muara yang menghabiskan waktunya bermalas-malasan di pinggir sunga.  Uniknya lagi, masyarakatnya Bandar Seri Begawan ada yang tinggal di daratan ada juga yang tinggal di atas sungai Brunei. Eh kok bisa? lanjutin baca aja dulu ya.

Sebelum pergi ke Brunei sering dapat cerita kalau penduduk Brunei itu kaya semua, kehidupan disana terjamin dan banyak berseliweran mobil mewah di jalanan Bandar Seri Begawan. Yeps beberapa memang benar, dikarenakan kekayaan minyak yang melimpah ruah negara ini menjadi salah satu negara kaya. Penduduknya pun rata2 berkecukupan. Semua keluarga Brunei memiliki mobil pribadi. Hal ini menyebabkan tidak ada dari penduduk Bandar Seri Begawan yang memanfaatkan transportasi umum seperti bus.

Cerita lain yang menurutku ga terbukti yaitu banyak mobil mewah macam Ferrari, Maserati, Porsche dkk nya berseliweran di jalan, well selama aku disana jarang ada mobil2 mewah berkeliaran. Rata2 penduduk Brunei memakai produk umum seperti Toyota, Honda dan Daihatsu yang serinya sama seperti yang beredar di Indonesia.

TRANSPORTASI

Menjelajahi Bandar Seri Begawan itu gampang2 susah.  Selain bisa dijelajahi dengan berjalan kaki kita juga bisa menggunakan taxi atau transportasi umum yang murah. Satu2nya transportasi umum murah meriah disana hanyalah bus nanggung ukuran 3/4 (untuk beberapa rute sudah ada bus besar). Pertama kali yang kudu dilakukan adalah nemuin terminal bus utamanya yang berada di pusat kota.

Terletak di jalan Cator, terminal bis ini menempati lantai dasar sebuah gedung parkir. Tidak nampak seperti terminal dari luar jadi harus jeli untuk mencari. Rute dari bus-bus yang beroperasi terpampang jelas di papan pengumuman yang ada di depan terminal. Saat anda terlihat bingung mencari nomor bus dan rutenya, akan ada orang2 yang mendekat untuk menawari taxi gelap. Orang2 yang menawarkan jasa taxi gelap ini tidak pernah memaksa, kalau kita tidak mau bilang saja tidak terima kasih atau bilang sudah dapat nomor bus nya.

Harga tiket bus ke semua tujuan jauh dekat hanya 1 Ringgit. Uniknya semua bus di Bandar Seri Begawan ini kondekturnya adalah perempuan Indonesia. Sedangkan sopirnya sebagian orang Indonesia sebagian lagi orang Bangladesh. Jangan ragu untuk bertanya rute dan tujuan kita, karena semua sopir dan kondekturnya ramah dan tidak pelit berbagi informasi. Jangan heran juga kalau kebanyakan sopir, kondektur dan penumpangnya saling kenal dan berbahasa Jawa.

img_8781

Bus warna pink untuk dalam kota, bus besar untuk menuju Seria (tempat tambang minyak)

SPOT

Banyak spot menarik dan GRATIS! yang ditawarkan Bandar Seri Begawan dengan hanya berjalan kaki ataupun dengan menggunakan bus. Menariknya lagi kita ga akan menemukan remaja2 alay disini (eh).

Waterfront

Merupakan sebutan untuk tempat yang berada di tepi Sungai Brunei ini cocok buat menghabiskan sore sambil menikmati udara yang bersih. Terdapat beberapa restaurant dan cafe yang menjual baik makanan besar maupun ringan. Terdapat juga monumen unik berbentuk angka 60 dalam huruf Arabic yang dinamakan Mercu Dirgahayu 60. Merupakan monumen hadiah rakyat Brunei saat ulang tahun Sultan Hassanah Bolkiah ke 60 tahun.

River Cruise

Tertarik menjelajahi sungai Brunei? well bisa langsung menuju dermaga kecil yang banyak terdapat di sepanjang Waterfront. Akan banyak pemilik boat kecil yang menawarkan short trip menjelajahi sunga Brunei. Cari yang bisa ditawar, awalnya pemilik boat memberi harga 40 ringgit untuk 60 menit berkeliling, namun setelah ditawar kami dapat harga 30 ringgit untuk trip mengelilingi Kampung Ayer, Jong Batu (shipwreck) dan Pulau Ranggu yang merupakam habitat Bekantan dan buaya muara (jangan takut ga ketemu, bekantan banyak bergelantungan dan buaya muara banyak berjemur di pinggiran sungai).

Sedikit cerita tentang Jong Batu, konon merupakan bangkai kapal yang karam. Uniknya, keberadaan Jong Batu ini terkait dengan legenda setempat yang ceritanya mirip2 dengan Malin Kundang. Tokoh utama dalam legenda ini bernama Sitanggang atau dijuluki Nahkoda Manis, yg merupakan anak dari keluarga miskin yang berubah nasib menjadi kaya semenjak menjadi nahkoda kapal. Namun seperti cerita Malin Kundang, Sitanggang ini tidak mengakui lagi Ibunya yang miskin sehingga si Ibu mengutuk anaknya menjadi batu.

Kampong Ayer

Kampung yang berada di atas sungai Brunei ini merupakah salah satu pemukiman di atas air yang terbesar di dunia, sampai mendapat julukan Venice of The East. Hampir 30% penduduk Bandar Seri Begawan hidup di kampung ini. Tak hanya perkampungan, Kampung Ayer ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, tempat ibadah, kantor polisi dan kantor pemadam kebakaran. Ada juga Museum Budaya Kampung Ayer tempat informasi sejarah awal bedirinya pemukiman unik ini.

Masjid Omar Ali Saefuddien

Ini nih masjid yang menjadi icon dari Brunei. Dulu ketika waktunya prakiraan cuaca di acara berita malam TVRI, masjid ini selalu muncul untuk menggambarkan Brunei. Masjid kebanggan warga Brunei ini dikelilingi laguna dan terletak persis di pinggir sungai Brunei. Sejarahnya ga perlu aku ceritain ya karena bisa googling sendiri hehehe. Nah, spot mana yang bagus buat ambil foto dengan background penuh Masjid ini, jawabannya ada di sebelah selatan Masjid ini. Terdapat jalan raya di selatan Masjid ini yang memisahkan Masjid dengan Mall Yayasan Sultan Hassanah Bolkiah (oke namanya mall, tapi sepi, hehehe), dari trotoar disini kita bisa ambil gambar dengan background bahtera dan Masjid nya.

Uniknya Masjid ini, kubahnya dilapisi emas murni yang bikin mata silau kalau matahari sedang bersinar bahagia (ah kalau ini saya lebay, haha). Bagian dalam Masjid ini pun luar biasa indahnya, sayang nya kita ga boleh ambil gambar di dalam. Alhamdulillah waktu itu bisa ngerasain Sholat Iedul Adha di dalam Masjid ini. Di sebelah selatannya, tepatnya di tengah laguna juga berdiri gagah replika bahtera Sultan Hassanah Bolkiah. Antara Masjid dengan bahtera dihubungkan oleh sebuah jembatan, sayang pengunjung dilarang masuk ke bahtera entah kenapa.

IMG_3292

Masjid Jami’ Hassanah Bolkiah

 

Masjid lain yang menjadi kebanggaan warga Brunei, kubahnya berlapis emas juga dan lebih besar daripada Masjid Omar. Letaknya dekat dengan Gadong Night Market. Untuk menuju kesini harus menggunakan bus umum dari Jalan Cator. Interior Masjid ini pun sangat indah dan sayangnya lagi tidak boleh mengambil gambar di dalam Masjid. Masjid ini juga dilengkapi banyak eskalator untuk menuju ruang utamanya. Kalo perkiraan aku sih Masjid ini sering dipakai ibadah oleh keluarga Kerajaan karena fasilitasnya sangat memanjakan jamaahnya.

IMG_3424

(Bersambung)

Baca lebih lanjut

Jelajah Brunei

Jam masih menunjuk pukul 4 pagi WIB, tapi dengan menggendong satu ransel kecil dan menarik koper andalan (satu2nya sih jd andalan) aku memasuki ruang tunggu bandara Soekarno Hatta. Meski hari itu merupakan hari Sabtu awal dari long weekend, ruang tunggu ini tampak tak begitu penuh. Yah memang Negara tujuan bolangku kali ini ga se-famous Singapore, Jepang atau Korea.

Brunei Darussalam, yap negara kaya minyak inilah tujuanku untuk merayakan Idul Adha tahun ini.

Jam 5.30 WIB tepat seluruh penumpang dipersilahkan masuk ke Pesawat. Tak banyak penumpang, jadi proses boarding pun tak berjalan lama. Pramugari berjilbab pun menyapa para penumpang dengan senyum terbaiknya.

Jam 6.00 WIB tepat, Royal Brunei yang saya tumpangi pun mulai taxiing menuju landasan. Unik, ya sebelum kami take off, Pilot memutarkan video doa perjalanan yang disusul dengan safety demo. Poin plus buat Royal Brunei.

Ini pertama kalinya saya mencoba naik maskapai pelat merah milik Kerajaan Brunei. Nyaman, makanannya lezat plus FA nya juga ramah. Dan karena mengetahui aku kesana untuk liburan pun mereka tampak heran dan akhirnya bertanya kenapa memilih Brunei untuk liburan dan sampai kapan disana (fyi kebanyakan WNI yang ke Brunei adalah urusan bisnis atau TKI).

Jam 9 waktu Brunei pesawat pun mendarat dengan mulus di Brunei International Airport. Jangan bayangkan bandara mirip SHIA, Changi atau KLIA. Bandara ini lebih mirip ke terminal 2 Juanda International Airport Surabaya. Dan info yang aku dapet hanya ad 4 maskapai yang melayani rute ke Brunei, Royal Brunei, Air Asia, Malaysia Airlines dan Singapore Airlines.

Awalnya aku berencana untuk explore Brunei ini secara solo, tapi keknya takdir berkata lain, di bandara aku bertemu 3 WNI lainnya yang surpriseeeee, mereka juga baru pertama kali datang ke Brunei karena penasaran dan kebetulan kami menginap di hotel yang sama. Jadilah kami berempat sepakat untuk explore bareng demi keamanan dompet kami tentunya (alias irit).

Kecewa! itulah yang kami rasa ketika sampai di Hotel Jubilee. Hotel yang letaknya tepat di pusat kota ini direkomendasikan banyak traveller dikarenakan dia punya paket city tour gratis. Tapi ternyata semenjak pergantian Manajemen Hotel, paket city tour nya dihapus. But the show must go on lah. Setelah proses check in (yap kami diperbolehkan check in jam 10 pagi dikarenakan tingkat hunian hotel di negara ini rendah) dan istirahat sekedarnya kami pun mulai berjalan menuju ke pusat kota. Tujuan pertama kami adalah waterfront!.

Sedikit info tentang Hotel Jubilee, posisinya strategis meski bukan paling strategis. Harga cocok dengan kualitas yang diberikan. Hotel tua tapi lumayan nyaman. Kalau menginginkan yang lebih nyaman dan mahal bisa memilih Hotel Radisson atau The Brunei Hotel yang letaknya persis di tengah kota. Cuma, jangan compare kualitas hotel disini dengan di kota2 besar Asean lainnya.

Jom Explore!Itinerary

MENJADI ANAK KECIL DI GALA YUZAWA

Anak kecil disini maksudnya bukan anak kecil dalam arti sebenarnya. Tapi lebih sikap kami yang norak layaknya anak kecil yang seneng dapat maenan baru. No wonder lah selama ini kami belum pernah ngerti yang namanya salju kek mana bentuknya dan rasanya, eitss of course kami tak mencicipi rasanya beneran, heu. Berguling-guling layaknya Sinchan kalau lagi ga ada kerjaan trus maen lempar2 bola salju. See, kek anak kecil.

Gala Yuzawa ini merupakan salah satu ski resort famous di Jepang. Terletak di Prefektur Niigita, resort ini dapat ditempuh kurang lebih selama kurang lebih 1.5 jam menggunakan Shinkansen dari Tokyo. Belajar dari pengalaman ke Hakodate, alhamdulilah kali ini kami dapat tempat duduk di shinkansen, jadi bisa melanjutkan tidur kami yang tentunya kurang selama trip ini.

Sampai di Gala Yuzawa kita akan ditawari beberapa paket yang ada mulai dari paket snowboard sampai dengan paket ski. Dikarenakan kami ga ada yang berminat maen ski dan sejak di Jepang banyak melihat orang cedera kaki karena maen ski, akhirnya kami ambil paket maen snowboard. Dan ternyata karena kami orang Indonesia kami pun mendapat diskon untuk setiap paketnya, lumayan lah semakin irit. Oiya dalam paket itu sudah termasuk tiket masuk, tiket gondola, sepatu boots, gloves, snowboard dan locker untuk menaruh sepatu kita.

Untuk mencapai resort yang ada di atas gunung, kita harus naik gondola atau cable car yang entah panjangnya berapa meter dan tingginya juga berapa meter, jangan tanya saya!. Begitu keluar dari gondola, wuzzz udara dingin langsung menyergap ke seluruh tubuh. Meski cuaca saat itu lumayan panas  karena sudah akan mulai musim semi, ternyata angin di resort ini cukup sejuk.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ga pakai lama kami pun langsung berlari-lari di atas salju yang baru pertama kali kami lihat. Berguling-guling, ambil foto dan maen lempar salju. Dan yang utama kami lakukan adalah maen snowboard, yeayyy!!! Awalnya keki juga disana, banyak anak kecil maen ski, kami yang udah segede gaban ini maennya snowboard. Ahhh masa bodo lah ga ada yang kenal juga, biarin norak norak deh! heu. Puas ber-snowboard rame-rame kami pun duduk2 di atas salju dan mencoba membuat boneka salju. Ternyata susah ya, selain karena saljunya yang sangat dingin bikin tangan beku, juga karena setiap udah mau jadi ada aja yang gangguin, heu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak terasa sudah seharian kami disana, saatnya pulang. Oiya di resort ini ada kedai ice cream macam d’crepes gitu. Mungkin karena lapar mata dan lapar perut serta lapar hari, kami pun tergoda untuk mencicipinya. Walhasil, dingin-dingin tetep aja makan ice cream!.

Photo 4-12-16, 10 50 08 AM

Pas menunggu Shinkansen menuju Tokyo, supriseeee ternyata Shinkansen yang akan kami naiki ini adalah Max Tanigawa, Shinkansen yang punya 2 lantai. Bah macam Boeing 747 atau Airbus 380 saja lah nampaknya, heu. Tapi tetep karena ini stasiun letaknya ada di tengah rute, kami pun harus kembali duduk ”ndelosor” di depan pintu masuk dan kemudian berganti ke tangga menuju lantai 2. Ngenes lagi? nggak, seru malah!

So besok kemana lagi? Gunung Fuji!

4 Jam di Hakodate

Kota besar yang terletak di selatan Pulau Hokkaido ini benar-benar membuat aku jatuh cinta. Cuacanya yang sejuk, semilir angin menggetarkan hati serta warganya yang ramah membuat kota ini cocok untuk menghabiskan masa pensiun (impian saja sih). Kami ke Hakodate bukan tanpa rencana, bukan pula tanpa alasan. Kenapa tak ke Sapporo yang konon lebih indah? yup karena jadwal cherry blossom di kota ini yang sesuai dengan jadwal kedatangan kami di Jepang. So tak heranlah kami mengejar moment ini sampai ke Pulau Hokkaido.

Untuk mencapai kota ini, kami terlebih dahulu harus naik Shinkansen ke Kota Aomori yang terletak di ujung Utara Pulau Honsu. Lama perjalanan yang harus kami tempuh ke Aomori adalah sekitar hampir 4 jam. Dan kemudian berganti kereta di Aomori untuk menuju Hakodate yang menempuh lama sekitar 2 jam, jadi total waktu yang kami tempuh kurang lebih 12 jam PP dari Tokyo ke Hakodate.

 

Ternyata untuk travel di Jepang pun butuh perjuangan. Karena kekurangtauan kami, saat naik Shinkansen kami tidak dapat tempat duduk karena penuh. Alhasil kami pun duduk berpindah pindah dari depan toilet sampai ke depan pintu masuk. Awalnya kami berfikir sistem tempat duduk kereta di Jepang ini seperti di Indonesia yang semua penumpang harus duduk, tidak ada yang berdiri, ternyata kami salah. Jadi kalau kamu-kamu ke Jepang dan ada rencana jalan jauh pakai kereta, pastikan hari sebelumnya kalian sudah check in di loket stasiun supaya dapat tempat duduk!. Lelah lho harus duduk di bawah selama hampir 4 jam, belum lagi harus berdiri karena ada yang mau pake toilet atau karena ada pramugari kereta lewat dengan troley nya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Begitupun ketika sampai di Aomori, kami pun tak dapat tempat duduk di kereta menuju Hakodate, yah kami nikmatin saja, kapan lagi punya petualangan seru seperti ini. Jalur kereta Aomori-Hakodate ini ternyata melewati terowongan bawah laut bernama Seikan Tunnel sepanjang 19.5 KM. Bayangin saja naik kereta Jakarta-Bandung dan melewati Terowongan Sasaksaat dengan durasi lebih panjang dan lama.

Sampai di Hakodate, Kami mencari Sevel&I  dulu untuk mencari makan. Ohya, ternyata di Hakodate ini banyak dijual seafood, yang paling menarik tentu saja kepiting alaska yang super gede itu. Sayang harga kepiting itu mahal jadi kami tak mampu beli, ngenes sih tapi dalam hati tetep berdoa, “ya Allah, Maher Zain pengen makan kepiting alaska”. Akhirnya kami pun menemukan Sevel&I dekat pemberhentian Trem. Dan surprise, doa kami terjawab, Seven&I hakodate mereka jual shisamo, gurita dan bahkan kaki kepiting alaska, tanpa pikir panjang aku pun langsung membelinya. Gak papalah cuma kakinya saja, yang penting kepiting alaska,heu. Surprise yang kedua, ternyata orang asing yang ada di dalam toko itu orang Indonesia juga. Mereka Pelaut Indonesia, kapal mereka sedang bersandar di Pelabuhan Hakodate dan mereka turun untuk mencari makan. Ohya, pegawai Sevel&I disini ga bisa bicara bahasa inggris, tapi mereka ramah dan total sekali melayani customernya, salutlah.

Kenyang dan kami pun langsung menuju ke Hakodate Park menggunakan Trem. Ternyata disana sudah banyak orang ber-Hanami bersama sanak saudara dan kawan. Yah seperti biasa karena baru pertama kali melihat sakura, aku pun seperti orang gila kesana kemari karena saking kagumnya. Kerana kam tidak membawa tikar, alhasil kami pun duduk beralsakan tanah sambilmakan jagung rebus dan camilan-camilan yang sudah kami beli di Seven&I dekat stasiun tadi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sempat ada keributan di taman, yah biasa ada orang yang terlalu mabuk sake, jadi tak terkontrol dan membuat keributan. Namun herannya hal itu tidak mengganggu kegiatan hanami orang-orang di sekitarnya. Sayangnya kami bisa lama-lama berada disana karena kami harus kembali mengejar kereta terakhir ke Tokyo. Sedih juga sih dalam satu hari habis 12 jam perjalanan di jalan dan hanya 4 jam merasakan guguran bunga sakura di taman dan tak sempat explore kota tenang ini. Tapi tak apa, kalau sudah jodoh pasti akan kesini lagi, seperti kata Afgan, jodoh pasti bertemu!!!

1431257907768

Bye Hakodate, Hello Gala Yuzawa!

 

SHORT TRIP KE SUMATERA BARAT: PAGANG ISLAND & PASUMPAHAN ISLAND

Jujur belum pernah denger nama Pulau Pagang dan Pasumpahan Island. Pernah dengarnya Sikuai dan Suwarnabhumi. Pas googling cari tempat buat snorkelling di Padang, muncullah 2 nama Pulau yang sedang hitz di Padang ini, Pulau Pagang dan Pulau Pasumpahan. Sebenernya ada satu lagi, Pulau Pamutusan, tapi difikir-fikir waktunya ga bakalan cukup karena flight balik kami ke Jakarta jam 7 malam.

Well, kerana memang udah niat snorkelling dan nenteng peralatan snorkelling sendiri dari Jakarta, pergilah kami keesokan harinya ke daerah Bungus yang masih masuk wilayah administratif Kota Padang. Banyak operator wisata yang menyediakan paket liburan ke Pulau-Pulau kecil di sekitaran Padang, salah satunya yang kami pakai hari itu. Kami diminta bekumpul di Losmen Carlos. Biasanya keberangkatan menuju Pulau sekitar jam 8 pagi, dengan catatan ga ada turis lain yang ngaret!!. Pengalaman kemarin bareng sama rombongan mahasiswa yang datangnya pake ngaret lama, jadi baru nyeberang sekitar jam 8.30 pagi.Kerana waktu yang terbatas, kami hanya mengambil paket one day trip ke Pulau Pagang dan Pulau Pasumpahan dengan harga paket Rp. 250rb/ orang sudah termasuk biaya boat PP, hoping island, makan siang, alat snorkelling dan kamera underwater.

Pulau pertama yang kita samperin adalah Pulau Pagang. Saat menuju ke Pulau Pagang dari Bungus kami melewati Teluk Sirih Power Plant, Pembangkit yang memproduksi listrik untuk kawasan Sumatera Barat. Ga bisa bayangin ternyata ada temanku yang sejak awal penempatan sampai sekarang berkantor di site Power Plant itu, heu.Photo 4-3-16, 8 43 03 AM

Pas dateng sebenernya matahari masih mumpet di balik awan, malu-malu gitu. Efeknya warna air laut di sekitar pulau tidak terlihat cantik. Tapi beberapa menit kemudian matahari muncul dan sim salabim, seketika air laut pun berwarna turqoise cantik.

Photo 4-3-16, 10 47 21 AM

Banyak aktivitas yang boleh dilakukan disini, such us jalan keliling pulau, snorkelling, banana boat dan doughnut (baca saja donat). Sayangnya terumbu karang di sekitar pulau ini belum terlalu banyak dan masih baby, tapi syukurlah cantik. Ikan-ikan disini pun banyak dan jinak kalau kita bawa makanan buat mereka. Jangan lupa untuk ambil foto di bawah air saat snorkelling. Permainan yang ada di Pulau ini pun tak kalah menarik, ada banana boat dan donat. Untuk donat per orangnya cukup membayar Rp. 35rb – Rp. 45rb dan kita puas dibawa keliling dengan kecepatan yang bisa membuat kita tereak kenceng. Kalau banana boat, ga tau berapa harganya karena sudah termasuk dalam [aket yang kami bayar. Fasilitas penginapan di Pulau ini pun ada, dan aku melihat banyak orang yang mendirikan tenda di pantai Pulau ni, yap mengirit pengeluaran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Puas di Pulau Pagang, setelah makan siang lanjut ke Pulau Pasumpahan. Pulau kecil ini letaknya lebih dekat ke Pulau utama Sumatera. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dari Pagang ke Pasumpahan. Moleknya Pulau ini tak kalah menarik dari Pulau Pagang, bahkan lebih menurutku. Yang lucu lagi, di Pulau ini ada ayunan di laut seperti yang ada di Ombak Sunset, Gili Trawangan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ohya sekedar saran, kalau mau kesini mendingan cari hari dimana tidak dikejar  jadwal flight balik ke kota asal dan juga kalau mau mandi bersih-bersih mendingan setelah sampai di Losmen Carlos  saja, karena pas balik dari Pulau ke Losmen bakalan basah kena air laut lagi, heu.

Waktu yang sempit membuat kami harus segera meninggalkan Pulau cantik ini untuk segera menuju Bandara Internasional Minangkabau di Pariaman

Photo 4-3-16, 6 29 33 PM

Next time, kalau ada rezeki dan kesempatan lagi pengen ke Batu Sangkar, Sawah Lunto, Kelok 9 dan Maninjau, insya Allah.

 

 

 

 

Short Trip ke Sumatera Barat: Padang – Bukittinggi

Excited. Itu yang aku rasa ketika ada dapat kabar harus ke Padang. Secara dari dulu pengen banget kesana. ada waktu 1 setengah hari untuk menikmati Sumatera Barat, well maybe terlalu luas, jadi kita guna Padang saja. Karena waktu yang sempit dan kebetulan temen deket lagi g ada disana, so diputuskan untuk ke tempat yang sudah famous, Bukittinggi! dan untuk minggunya karena hasrat snorkelling sudahmembara, jadilah Pulau Pagang dan Pulau Pasumpahan terpilih menjadi destinasi kami.

Perjalanan dari Padang ke Bukitnggi memerlukan waktu sekitar 2,5-3 jam. Sama dengan lama perjalanan Jakarta-Bandung kalau ga macet. Tapi boleh dikata setengah dari rute Padang-Bukittinggi ini mata kita dimanjakan oleh view yang elok dari Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Di tengah perjalanan ke Bukittinggi kita bisa mampir di Air terjun Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar. Spesialnya, air terjun ini berada tepat di pinggir jalan raya Padang-Bukittinggi, jadi ga perlu susah-susah jalan jauh kalau mau lihat air terjunya.

Enlight

Lanjut jalan ke Bukittingi, tempat pertama yang disamperin Ngarai Sianok. Ngarai ini ternyata letaknya tepat di kota Bukittinggi, padahal selama ini aku berfikiran ngarai ini letaknya di luar kota Bukittingi. Tidak ada apa-apa di sini, hanya tempat tinggi untuk berfoto dengan background ngarai. Tapi jangan khuatir, banyak toko oleh-oleh yang boleh dijadikan tempat cari kerjaan, eh bukan, maksudnya tempat cari oleh2. Selain itu masih dalam kawasan wisata ini juga ada Goa Jepang. Kenapa dibilang Goa Jepang, karena yang bikin Goa ini tentara Jepang. Eh sebenarnya rakyat Indonesia yang bikin saat ada Romusha dulu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

Banyak cerita seram dan sejarah yang kelam mengenai pembangunan goa ini. Salah satunya tergambar dengan adanya ruang penjara  dan dapur yang konon katanya digunakan untuk memutilasi mayat-mayat para pekerja yang meninggal. Tapi kita tidak akan membahas yang pilu-pilu dan seram-seram di postingan ini. Mau jelasin berapa ruangan yang ada dan berapa panjang terowongan juga lupa. Yang pasti terowongan ini panjang dan banyak ruangan. Gitu aja. Ohya untuk masuk ke terowongan ini lebih baik memakai pemandu dengan membayar Rp. 70.000 saja. Bisa sih tanpa pemandu tapi pastinya bakalan boring karena ga ada yang jelasin sejarahnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada satu hal yang akhir-akhir ini sedang viral tentang Bukittinggi, yes apalagi kalau bukan harga makan dan tarif parkir yang menusuk hati layaknya kata-kata penolakan dari orang yang kita cintai *aihhhhh. Well, kemarin sempat merasakan memang parkir mobil Rp. 5000 per mobil (di Jakarta aja kita parkir di minimarket paling bayar Rp.2000). Tapi kalau harga makanan ga tau mahal apa nggak karena yang bayar bukan aku tentunya.

Ada satu makanan yang selalu direkomendasikan orang Minang kalau kita berkunjung ke Bukittinggi, Gulai Itiak Lado Mudo (dalam hati ngomong pake logat khas Minang). Eh bahasa simpelnya gulai itik/ bebek lada hijau. Rasanya? enaklah secara aku suka bebk plus makanan pedas plus lagi gratis *ondemande. Banyak tempat makan yang yang menyajikan makanan khas Bukittinggi ini, jujur aku g tau mana yang paling enak karena ga mungkin cobain satu per satu.

Photo 4-2-16, 4 42 45 PM

Lepas makan, cabut kita ke satu lagi icon Bukittinggi yang boleh dibilang Big Ben nya Indonesia, Jam Gadang. Well mungkin boleh dibilang norak lompat-lompat karena pecah telur ngelihat menara ini untuk pertama kalinya karena dari kecil sampe dewasa gini (euw dewasa kata yang dipilihnya) cuma ngelihat di buku pelajaran sekolah, majalah dan tivi. Sekali lagi ga ada apa2 di kawasan jam gadang ini, hanya taman lumayan besar tempat orang nongkrong dan foto2 plus banyak penjual makanan kecil, maenan anak dan gelembung sabun (entah apa namanya).

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Nah, kerana sudah mulai malam, kami memutuskan untuk segera pulang kembali ke Padang karena masih harus saving energi. Esok harinya kami akan menyeberang ke Pulau-Pulau kecil di sekitar Padang. Sempet keder juga sebenernya ketika di Bukittinggi ketemu kawan lama dan dia minta saya berhati-hati saat ke Pulau karena masih sering terjadi gempa. Tapi ya sudahlah, semua sudah ada yang atur kan!

 

to be continued …