WORTELKU SAYANG WORTELKU MALANG

Sore itu, aku dan temen2 SDM menemani Bu DM & Bu SPV  yang ingin berbelanja buah dan sayuran di Pasar Tradisional Bandungan (Ya, bener Bandungan, bukan Bandung, kalian ga salah baca kok).  Kebetulan kami baru pulang dari penutupan acara kantor di resort sekitar Bandungan. Mumpung lagi di Bandungan, mampirlah Bu-Bos Bos di Pasar Bandungan sekalian makan bakso (duh, pas banget, kebetulan aku belum makan dari siang)

Bandungan ini merupakan daerah yang berada di lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Letak nya ada di 110°LU – 120°LS (jangan dicari di peta, aku ngawur maksimal). Daerah ini, selain terkenal sebagai pusat sentra pembuatan tahu ungaran atau tahu serasi, karena udaranya yang dingin juga terkenal sebagai gudangnya kebun sayuran dan bunga. Sayuran dan buah itu tidak hanya untuk memnuhi kebutuhan masyarakat sekitar, namun juga sebagai supply untuk Kota Semarang dan kota sekitarnya.

Tapi sore itu sewaktu ngublek-ublek pasar, aku sempat shock. Bukan, bukan karena penjualnya minta foto dan tanda tangan saya, tapi dikarenakan penjual sayuran menawarkan wortel yang gede-gede dan sexy ke kami. Lalu apa yang salah dengan wortelnya? Apa saya takut wortel seperti Sinchan takut brokoli? Tidak juga. Tapi kalimat Ibu penjualnya yang bikin aku shock.

Jadi ceritanya, si Ibu itu bilang “mari bu, pak, wortelnya bagus-bagus”. Bu Bos SPV nanya, “berapaan bu wortelnya?”, sambil ngeliatin wortel yang memang gede-gede dan warna orange-nya secantik Nadia Hutagalung. “17 setengah bu, wortel impor, kalo yg lokal 10rb sekilo” timpalm si Ibu penjual. “Apa? Wortel impor!!!” pekikku, lalu segera aku menunduk untuk membaca kardus tempat wortel-wortel cantik itu diletakin. Di box wortel terdapat tulisan, Carrot, Import from China.  Gila, masa di tempat seperti ini ada wortel impor. Eits, jangan salah sangka dulu, aku bukan meremehkan tempatnya yg notabene bukan kota ya, lebih tepatnya aku prihatin.

Prihatin, ya aku dan temanku Galih merasa prihatin dengan apa yang baru kami dengar dan lihat. Wortel impor di daerah penghasil wortel. Nah lho, kenapa pedagang disini lebih menonjolkan wortel impornya dari pada wortel lokal? Wortel impor tadi dipajang di tempat yang kelihatan pembeli, namun wortel lokalnya entah ditaruh dimana tidak terlihat. Apa wortel impor ini lebih laku ketimbang wortel lokal? Nah bukannya orang Semarang kesini ini untuk beli sayuran yang fresh baru dipanen dari kebun? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang muncul di benakku seketika.

Kenapa wortel ini nasibnya kek buah-buahan seperti mangga, apel, pir dan lainnya? Kenapa wortel dan buah-buahan lainnya tidak bisa menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri?. Seperti kita tahu, produk-produk impor seperti apel, pir, jambu, belimbing, dan wortel itu sendiri sudah membanjiri toko-toko di kota besar negara kita. Dan parahnya daerah penghasil buah dan sayuran pun juga telah dimasukki oleh produ-produk impor tersebut.

Jujur menurutku, produk lokal lebih enak rasa dan kualitasnya. Aku ambil contoh apel. Apel Malang, bagiku rasanya lebih enak dan menggigit ketimbang apel merah USA yang merah kek hati ayam itu. Bahkan apel malang ketika dimakan tidak cepat layu (alum bahasa jawanya) seperti apel merah USA. Begitu juga belimbing Demak, rasanya lebih manis ketimbang belimbing Thailand. Dan masih banyak lagi buah dan sayur produk Indonesia yang aku rasa lebih nikmat ketimbang produk impor.

Siapa yang dirugikan kalo seperti ini? Pastilah petani pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Lalu Pemerintah rugi juga ga? Ga, mereka ga rugi sepertinya. Entah disadari atau tidak, sekarang ini produk-produk Indonesia kalah bersaing di negeri sendiri. Banyak produk impor masuk dan menguasai pasar. Padahal kualitas dari produk dalam negeri seperti yang udah aku tulis di atas, tidak kalah dengan produk luar.

Perlu ga ya kita menyalahkan pemerintah karena hal seperti ini? Tidak menurutku. Namun kita sebagai manusia yang mencintai negara, harus berperan aktif untuk ikut mencari solusi permasalahan ini. Kita mulai dari yang kecil, mari kita biasakan untuk mengkonsumsi produk-produk seperti sayuran dan buah-buahan yang merupakan produk lokal, dimana dukungan kita dengan membeli produk lokal tersebut akan semakin memberikan dorongan dan motivasi untuk para Petani di negeri kita untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas produk mereka.

Jadi, tidak perlu impor buah-buahan dan sayuran dari Thailand atau China, cukup Pemerintah dan kita sebagai warga untuk memberikan dukungan dengan memberikan kesempatan bagi produk Petani lokal menjadi tuan rumah di negaranya sendiri.  Mari, seperti kata Titik Puspa dan Kakek (ga tau namanya) di iklan tipi-tipi, “Cintailah Produk Produk Indonesia”.

MERDEKA!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s