Long Road to PLN (Part 2)

12 Hari di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus

(12-24 Desember 2010)

 

Tol Cileunyi – Padalarang, 06.30 WIB

6 Bus OBL yang membawa rombongan angkatan 24 Rekrutmen Jogja meluncur pelan di jalan bebas hambatan ini. Aura-aura mengantuk masih menyelimuti temen2 dalam bis. Perjalanan dari Semarang menuju Cimahi memang sangat melelahkan. Duduk di dalam bus hampir 10 jam membuat pantat merasa panas dan badan pegal2. Sambil melihat keluar jendela – pemandangan kota bandung – aku membayangkan bagaimana bentuk rupa Pusdikpassus, tempat yg baru aku dengar saat tanda tangan kontrak, bahkan daerah Batujajar pun belum pernah dengar, Cimahi pun hanya pernah melintas sekali saat perjalanan dari Sukabumi ke Semarang. Pengalaman hidup baru di depan mata.

Keluar dari pintu tol Padalarang, sampailah rombongan ke daerah bernama Batujajar (Cimahi). Panas, berdebu, tidak sesuai dengan bayanganku selama ini yg mengira Batujajar itu dingin seperti Kota Bandung. Sampai akhirnya bus membawa kami masuk komplek Pusdikpassus yg luas, sebuah plang bertuliskan kalimat yg tegas menyambut rombongan ketika memasuki komplek ini.

“ANDA RAGU-RAGU KEMBALI SEKARANG JUGA”

Benar2 sambutan yang sangat mengena, seakan plang itu tahu kalau aku dan mungkin sebagian peserta diklat lainnya ragu2 mengikuti diklat ini. Jujur aku tidak pernah suka dengan hal-hal yang berbau militer.  Sering aku membayangkan harus berlari, membawa senjata, merayap di lumpur, bentakan2, tendangan2, pukulan2 dan sebagainya. Keder juga waktu bus berjalan pelan memasuki komplek.

Beberapa meter setelah melewati plang, terdapat patung tentara baret merah yg membawa senjata di tangan kanan dan tangan kiri dalam posisi menunjuk. Hm, patung yang bikin hati jadi keder. Bus terus melaju masuk ke dalam kompleks, tibalah rombongan di barak Raiders, Barak yg sangat bagus dan rapi pikirku. Eits tunggu dulu, ternyata hanya cewek2 yang turun di barak ini, sedangkan cowok2 masih harus tetep di bus. Ada sesuatu yg menyita perhatianku saat berada di sekitar barak cewek, ga lain ga bukan adalah sebuah menara yg tinggi banget. bukan menara telpon, listrik ataupun menara tv. Ternyata itu adalah menara buat latihan terjun payung (ngeri deh bayangin terjun dari menara setinggi itu).

Akhirnya sampailah di barak cowok. Wow, barak ini terlihat tidak lebih bagus daripada barak cewek. Terdiri dari 2 bangunan. Bangunan depan untuk barak tidur dan bangunan belakang untuk kamar mandi (jangan bayangkan kamar mandi rumah atau hotel, ini kamar mandi barak militer bro). Bangunan depan terdiri dari 4 kamar yang memanjang. 2 kamar di sebelah kiri dan 2 lagi di sebelah kanan. Tiap kamar terdiri dari banyak (lupa jumlahnya) ranjang bertingkat tempat para peserta diklat tidur. Dan aku, kebagian ranjang paling pojok (paling jauh dari pintu) yg kemudian hari sering membuat aku mengeluh karena paling jauh dr pintu dan beryukur pula karena paling luas (bisa untuk sholat).

Selepas membongkar tas dan memasukkan baju dalam lemari, dimulailah kehidupan ala militer bak di film2 korea tentang wajib militer. Bencana atau anugerah kah 12 hari di tempat ini? waktu yang menjawab🙂

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s