Hasil Obrolan Asyik Antara @AirAsiaGoID dengan @ClaudiaKaunang

Semalam, di twitter, akun @AirAsiaGoID melakukan obrolan dengan salah satu ahli travelling Indonesia @ClaudiaKaunang. Siapa Claudia Kaunang ini?. Claudia Kaunang ini adalah salah satu penulis buku best seller tentang travelling murah, antara lain 500ribu Keliling Singapura, 3 Juta Keliling Korea dalam 3 hari, dan lainnya.

Singkat cerita, di akhir obrolan @AirAsiaGoID menanyakan apa yang perlu ditingkatkan agar potensi Bali meningkat, CK bun menjawab ada 3 poin yang harus dilakukan

1. Transportasi umum yang nyaman, aman, handal dan terjangkau, jadi tidak perlu lagi menyewa mobi/motor untuk jalan2 keliling Bali

2. Pelayanan warga lokal terhadap turis Indonesia. Sebaiknya warga lokal lebih mengistimewakan turis domestik daripada dr LN

3. Kios informasi turis di Bandara & tempat wisata. Kios2 ini harus independen & bukan utk jualan tour ini itu/akomodasi

Nah dari ketiga jawaban CK tadi, menunjukkan bahwa selama ini ada beberapa hal yang membuat Bali kurang nyaman bagi pengunjung domestik (sepertinya ga hanya CK yang mengalami, tapi pastinya diantara kita juga banyak yang mengalami). Untuk itu aku pengen bahas ketiga poin itu disini, pastinya dari sudut pandang n pengalamanku selama mengunjungi Bali (sedikit serius neh).

Poin nomor 1.

Awal-awal aku berlibur ke Bali selalu menggunakan bus pariwisata atau mobil sewaan. Saat itu belum terasa ketidaknyamanannya. Baru setelah aku sering dinas ke kantor Unit Bali, aku merasakan ketidaknyamanan itu. Ketidaknyamanan itu berawal dari tidak adanya transportasi umum murah keluar dari bandara. Hanya taxi, ya, harap dicatat, hanya ada taxi, tidak ada Damri atau pun Busway seperti di JKT, Jogja atau Surabaya. Selain itu di luar bandara kalau kita mau ke tempat wisata2 pun tidak ada angkot khusus, tapi kita harus menyewa mobil/motor plus driver yang menunjukkan kita lokasi wisatanya. Mahal? mestinya.

Harusnya Bali mencontoh Jogja, dimana di Kota ini, Pemerintah Daerah benar-benar memberikan fasilitas murah dan berkualitas bagi wisatawan untuk berkeliling Jogja seperti Trans Jogja. Hanya dengan merogoh kocek sekitar 3500 kita sudah bisa mengelilingi dan berkunjung ke tempat-tempat wisata di Jogja.

Poin nomor 2.

Masalah pelayanan warga lokal yang terkesan cenderung diskriminatif terhadap wisatawan domestik ini sepertinya banyak dialami oleh kita. Tidak hanya di Bali, di beberapa lokasi wisata yang banyak turis LN nya, kejadian ini sering terjadi. Salah satu perlakuan diskriminatif ini, pernah aku alami, salah satunya di tempat wisata safari di Bali. Ceritanya, waktu itu karena ingin berfoto bersama singa, aku dan teman-teman pun menuju ke tempat foto. Saat itu antrian tidak terlalu banyak, dan di belakangku pun ada beberapa rombongan bule yang ikut mengantri. Sejak 2 orang sebelum aku (kebetulan juga turis domestik kek aku) berfoto sampai aku berfoto, singa tersebut tidur dan Pegawainya pun terlihat ogah-ogahan. Namun hal itu tidak terjadi saat kesempatan berfoto rombongan bule di belakangku. Para pegawai di tempat itu dengan semangat membangunkan singa tidur itu dan dengan ramah melayani bule itu untuk dipotret.

Melihat sikap yang diskriminatif tersebut, spontan aku protes ke Pegawainya. Namun bukan penjelasan yang menenangkan yang diberikan oleh Pegawainya, tapi kata-kata yang meremehkan lah yang keluar dari mulut Pegawai tersebut. Dengan rasa dongkol aku pun langsung keluar tempat itu.

Nah, hal seperti itulah yang kadang membuat miris aku. Kenapa mental orang-orang kita seperti itu? lebih mengistimewakan Turis LN ketimbang Turis Domestik yang notabene saudara senegara.  Mental yang lebih mengistimewakan turis LN inilah yang seharusnya dihilangkan, karena sikap mengistimewakan tersebut sama dengan secara tidak langsung kita merendahkan harga diri kita sebagai bangsa Indonesia.

Poin nomor 3

Masuk ke terminal kedatangan di Ngurah Rai Bali, kita pasti akan menemui rak-rak di tiang yang berisi brosur-brosur. Brosur wisata kah? iya, tapi lebih tepatnya brosur paket wisata dari berbagai biro dan juga brosur penyewaan mobil/motor. Bagaimana dengan brosur tentang daftar tempat wisata, rute dan cara kesananya? tidak ada. Bandingkan dengan Bandara di SG & HK yang kaya akan brosur mengenai tempat wisata, jalur transportasi dan bagaimana mencapai tempatnya. Brosul-brosur di Bandara Bali ini kebanyakan adalah brosur yang dibuat oleh biro-biro wisata yang mempunyai paket perjalanan mengelilingi Bali.

Nah 3 poin diatas, seperti jawaban CK lah yang memang harus dibenahi oleh Pemerintah untuk meningkatkan potensi wisata tidak hanya di Bali namun juga daerah-daerah destinasi wisata lainnya di Indonesia. Namun selain dari pemerintah, dukungan dari masyarakat tempat wisata juga diperlukan untuk meningkatkan kunjungan turis baik domestik maupun LN yang nantinya akan dapat menambah pemasukan daerah tersebut.

Akhir kata, aku mau berterima kasih ke @AirAsiaGoID n @ClaudiaKaunang atas obrolan yang sangat bagus tadi malam, semoga kedepannya akan ada obrolan-obrolan bermutu lainnya yang akan dapat meningkatkan potensi pariwisata di negara kita.

MERDEKA !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s