Kapan Ada Tambahan Moda Angkutan dari dan ke Bandara Ahmad Yani?

Selamat datang di Bandar Udara Internasional Ahmad Yani Semarang. Ya, itulah sapaan yang diucapkan oleh Pramugari pesawat apabila kita akan landing di Semarang. Bandara kecil ini memang sudah dibilang berkelas internasional. Namun pemberian gelar internasional itu jujur aku ga tau apa dasarnya, mungkin dikarenakan ada penerbangan internasional ke Singapura & Malaysia.

Terlepas dari apa dasar pemberian gelar internasional ke bandara ini, sebenarnya bandara ini menurutku belum terlalu ramah terhadap para pemakai jasa pesawat terbang. Masih banyak yang kurang baik dari segi infrastruktur dan pelayanan. Memang, bandara ini masih dalam tahap pengembangan untuk menjadikannya lebih luas dan lebih besar sehingga sesuai dengan gelar internasionalnya itu. Lalu bagaimana dengan hal-hal lain seperti pelayanan dan jasa penunjang seperti transportasi ke dan dari bandara ini? inilah yang ingin aku bahas, tentang transportasi dari dan menuju ke bandara.

Suatu ketika, aku dpt sms dari temen yang baru pertama kali mengunjungi Semarang. Kurang lebih seperti ini bunyi sms nya ” Fajri, dari bandara ke tempatmu naik apa?” . Yah, dikarenakan kebetulan aku sedang tidak bisa jemput temanku itu akhirnya aku jawab “Taxi, bilang aja turun ke Gajahmungkur”. Ya, taxi, the one and only angkutan yang bisa membawa kita keluar dari bandara (kalau tidak dijemput). Apa ga ada bus, becak atau ojek? Tidak kalau ingin keluar dari bandara. Tapi kalau mau ke bandara kita bisa naik apapun, taxi, becak ataupun ojek (ga ada bus umum atau angkot dengan trayek bandara).

Tidak tahu kenapa, bandara Ahmad Yani ini cuma memberikan hak mengangkut penumpang keluar hanya kepada satu operator taksi saja, yaitu taksi bandara. Sehingga operator taksi lain atau angkutan lain tidak ada yang berani masuk dan mengambil penumpang di bandara ini.  Jika ditinjau lebih dalam, kebijakan seperti itu tidak memberikan keleluasaan kepada para penumpang pesawat yang akan keluar bandara, bahkan mungkin bisa juga merugikan. Lho kenapa bisa dirugikan?

Merugikan para penumpang pesawat yang akan keluar bandara? jelas. Hal itu bener-bener aku alami selama ini jika tidak ada yang menjemputku di bandara. Kerugian dalam hal ini bukan hanya dalam hal materi, namun juga kerugian waktu dan psikis. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu. Saat itu aku ambil penerbangan paling m alam dari Jakarta. Waktu landing aku lihat 2 pesawat maskapai lain yang jam penerbangan terakhir juga dari jakarta sudah terparkir rapi di bandara, ini berarti maskapai yang aku naiki adalah yang paling akhir diantara yang terakhir. Dikarenakan ada barang di bagasi, maka aku masih harus menunggu barang keluar. Tidak dinyana, koperku ada paling akhir juga, jadilah aku paling akhir ambil barang.

Begitu mengambil koper dan berjalan keluar, terlihat seperti ada desak-desakkan manusia di pintu keluar. Aku pikir karena banyak penjemput jadi arus penumpang yang keluar tersendat. Namun aku salah, begitu sampai di dekat pintu keluar aku baru sadar kalau desak-desakkan itu bukan karena banyak penjemput, namun itu adalah antrian penumpang di counter taxi bandara. Kaget, shock, tercenung (halah bahasanya) dan langsung lemes antrian itu. Counter taxi itu hanya dilayani satu orang bapak-bapak yang harus melayani penumpang dari 3 maskapai penerbangan terakhir. Aku sejenak menengok ke belakang, ternyata ada beberapa orang yang baru keluar seperti aku dan mengeluh karena harus antri panjang untuk beli tiket taxi. Antrian diperparah dengan habisnya taxi bandara, sehingga pihak operator harus meminta tolong operator taxi lain untuk menyediakan taxi mereka. Itu artinya kami harus menunggu lebih lama untuk bisa mendapatkan taxi.

Hal ini lah yang aku maksud dengan merugikan. Seperti kita ketahui, tarif taxi bandara ini 2x lipat dibandingkan taxi biasa. hal itu sudah menjadi kerugian bagi penumpang dari segi materi, namun sudah dianggap biasa. Namun bagaimana kalo kasusnya seperti yang terjadi dengan aku seperti di atas? Dimana kondisi badan sudah capek setelah perjalanan dan waktu sudah terlalu malam. Dengan hanya dilayani satu bapak dengan calon pengguna yang jumlahnya lebih dari 50 orang, semakin menyita waktu dan tenaga, padahal tenaga sudah hilang dikarenakan capek.

Mengeluh, pastilah para calon pengguna jasa taxi ini mengeluh, termasuk aku ya. Bagaimana tidak, badan sudah merasa capek, psikis juga sudah mulai lelah, mengantuk, namun harus masih antri dan menunggu taxi cadangan yang itupun masih lama datangnya. Terpaksa menunggu karena tidak ada transportasi alternatif lainnya lagi untuk keluar dari bandara. Jalan kaki? sudah cukup gila kalau aku memilih jalan kaki sampai ke bundaran Kalibanteng,  jauh jendral!!!!! Harusnya, dengan adanya BRT Koridor 1 Mangkang – Penggaron,  jalurnya bisa dimasukkan ke bandara. Dengan begitu masyarakat dapat menggunakan moda ini sebagai alternatif angkutan selain taxi.

Hal inilah yang harusnya dijadikan bahan evaluasi bagi pengelola bandara Ahmad Yani. Pemberlakuan satu operator taxi sebagai penyelenggara tunggal transportasi untuk keluar dari bandara adalah merugikan bagi masyarakat. Membuat kita sebagai pengguna bandara tidak leluasa memilih moda transportasi yang sesuai keinginan kita (menyesuaikan isi kantong salah satunya). Kita hanya diberikan satu pilihan yaitu menggunakan taxi bandara untuk keluar dari bandara. Mau tidak mau ya harus mau.

Sampai kapan regulasi ini akan terus diberlakukan di bandara Ahmad Yani? apakah selamanya atau cuma sementara sampai pengembangan bandara telah rampung? Kapanpun itu sebaiknya pengelola bandara harus tanggap dalam melihat permasalahan ini. Memang selama ini keluhan mengenai transportasi ini jarang dibahas di media, namun lama kelamaan, akan ada masyarakat yang komplain juga karena jika dibandingkan dengan bandara-bandara di kota lain seperti Jogja, Banda Aceh, Surabaya, Lombok, bandara Semarang ini kalah jauh dalam hal pelayanan terhadap konsumennya.

Memang kita belum bisa mengharapkan bandara di Semarang ini menjadi bandara yang ramah dan nyaman terhadap konsumen seperti di Singapura atau Hong Kong. Tapi setidaknya perbaikan kecil mengenai masalah transportasi menuju dan dari bandara akan sangat menolong masyarakat dan memberikan kenyamanan buat masyarakat Semarang sehingga masyarakat bangga dengan bandara ini. Dimana kebanggaan itu akan memberikan nilai positif bagi keberadaan bandara sebagai pintu gerbang dan cerminan dari sebuah kota.

27 Comments

  1. Wah masak kalah ma bandara syamsudin noor di banjarmasin yg membebaskan semua moda transportasi masuk..mau ojek,bis,travel,taksi..bebas masuk…kayaknya ada permainan antara pengelola ma pemilik taksi..birokrasi orde baru yg harus direformasi..jd mikir kl turun di ahmad yani..mksh infonya..

  2. emang parah, saya juga pernah mengalami hal serupa tarif taxinya main getok dah gitu langsung bayar saat boking di bandara, begitu dah di dalam taxi kadang supirnya nawar diturunin gak sesuai pemesanan. jadi kapok turun bandara ahmad yani.

      • Ternyata angkutan keluar airport A. Yani cukup gampang, selain taxi bandara, keluar sedikit dekat lintasan kereta api ada ojek dan beca yang stand by, lewati jalan kereta api sedikit saja, dsisi kiri jalan ada halte bis BRT warna biru, katanya trayek baru, bisnya besar dan kosong bangeeet, saya hanya tunggu sekitar 10 menit bisnya datang, dan gak ada penumpangnya, mungkin karena BRT gak sampai masuk ke halaman parkir Bandara, muter balik sebelum lintasan kereta api, sebetulnya jika bisa mampir kedalam parkir, akan lebih bermanfaat terutama yang banyak membawa koper dan bagasi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s