Long Road to PLN Part 3 – Batujajar Tak Akan Kulupa

Seperti yang sudah pernah aku jelaskan di postingan sebelumnya, PLN 24 ini merupakan sekumpulan Pemuda yang lolos seleksi dari rangkaian tes masuk, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, Dari Aceh Sampai Papua. Bertemu lengkap untuk pertama kalinya saat Kesamaptaan di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) Batujajar, kami digembleng secara militer selama kurang lebih 12 hari untuk dibina menjadi manusia yang disiplin dan berguna.

Pusdikpassus adalah setting-an awal kisah kami sebagai satu keluarga di Angkatan 24. Keceriaan, kegembiraan, kesedihan dan kesusahan yang kami alami selama pendidikan militer ini ototmatis mempererat tali kekeluargaan kami menjadi senasib sepenanggungan. Senang bersama, susah pun juga bersama, satu disuruh push up, semua ikut push up, satu pingsan, semua ikut pingsan (eh kalau yang pingsan ini bohongan, hehehe). Di sinilah kami dilarang memiliki sikap apatis dan belajar meredam sikap apatis tersebut.

Dilatih langsung oleh anggota Kopassus yang terkenal hebat dengan Baret Merahnya, kami digembleng untuk membentuk pribadi yang disiplin, bertanggung jawab serta berani menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Seram? Awalnya iya, pas sebelum datang di Pusdikpassus ini aku membayangkan pelatihnya pasti seram-seram. Tapi hei, ternyata asumsiku salah, meskipun mereka lumayan galak (aku bilang tegas) tapi mereka baik dan bersahabat.

Kisah-kisah lucu banyak muncul selama Kesamaptaan di Pusdikpassus ini seperti Ardik si pembaca ikrar, Johanes si danki, Ines sang idola dan berbagai kisah lucu lainnya. Kisah-kisah inilah yang sampai saat ini masih sering diingat oleh kami. Selain kisah lucu, di Pusdikpassus bisa dibilang tempat kita belajar bernyanyi, karena bernyanyi merupakan bagian dari kehidupan kami di sini. Jalan harus sambil bernyanyi, lari juga smabil bernyanyi, materi di kelas apalagi, selalu diawali dengan bernyanyi (karena bernyanyi, ada muncul kisah Yoko si tukang berdendang). Bagaimana dengan mandi? Bagaimana mau bernyanyi kalo mandi asja kami harus antri, bisa2 di seret keluar sama teman lainnya karena kelamaan mandinya.

Pak Gendut, Satria Muda, Kapal Selam, Batujajar Tak Akan Kulupa adalah beberapa judul lagu yang diajarkan oleh Pelatih kepada kami. Terdapat dua Pelatih yang getol banget mengajari kami lagu baru, yaitu Pelatih Iskandar dan Pelatih Masturi. Seringkali beliau berdua mengajari lagu-lagu yang liriknya mereka gubah sendiri. Oh ya, ada satu lagu yang di-blacklist oleh para pelatih karena terlalu sering kami nyanyikan ketika kami sudah malas atau kehilangan ide mau bernyanyi apa lagi, yaitu lagu Halo-Halo Bandung.

Hari-hari kami di pusat militer ini adalah melatih kedisiplinan dan tanggung jawab kami sebagai generasi penerus perusahaan di masa depan. Berlari, baris berbaris, push up, bentakan, latihan, basah, kotor, materi, tidur di kelas adalah makanan sehari-hari kami. Lelah? capek? dongkol? Yah semua dirasakan, namun itu semua sirna ketika jam extrafooding datang. Ekstrafooding ini adalah salah satu hal terpenting yang kami nanti-nantikan di Kesamaptaan ini. Datang rutin tiap hari di jam 10 pagi dan 3 siang, ekstrafooding ini seperti menjadi tempat pelarian kami selama mendapatkan materi atau latihan yang kadang melelahkan. Getuk Batujajar adalah primadona sebagian besar kami saat ekstrafooding karena kemanisan dan kelembutannya (cieee, berasa es krim magnum aja, padahal getuk)

12 hari di gembleng secara militer membuat badan terasa remuk dengan bentuk kaki yang sudah amburadul karena dipaksa memakai sepatu tentara selama 12 hari.  Selama itu juga kami makan secara militer (duduk tegak, dilarang bersuara, harus habis & diberi waktu 10 menit, pernah 5 menit) dengan lauk yang sudah ditentukan. Jujur selama 12 hari itu lauk yang paling enak menurutku adalah kerupuk. Yah kerupuk itu sering menjadi rebutan karena rasanya yang paling ngena. Awalnya aku  secara pribadi benar-benar tersiksa dengan menu makan dan sistem makan yang ketat diterapkan, namun lama kelamaan jadi terbiasa juga.

Mendekati Natal, akhirnya berakhirlah Kesamaptaan kami di Batujajar. Acara Kesamaptaan ditutup dengan acara makan bersama dan dangdutan. Dihadiri oleh beberapa pejabat Pusdiklat PLN dan Pusdikpassus. Ada yang unik pas acara makan bersama, begitu melihat makanan enak, otomatis kami pun langsung merasa bahagia. Keadaan saat itu bisa digambarkan seperti melihat orang yang sudah 12 hari tersesat di hutan dan menemukan peradaban kembali (bisa bayangkan sendiri kan). Setelah acara makan, dilanjut dengan karokean dangdut dan joget bersama di depan panggung. Bintangnya adalah Dini, teman kami di 24 yang jago banget bernyanyi dangdut.

Setelah Kesamaptaan, apalagi?. Yak, setelah Kesamaptaan selanjutya kami dibawa ke Jakarta dan Bogor untuk mengikuti Pengenalan Perusahaan di Kantor Pusat dan Pusdiklat. Sayangnya di kegiatan ini kami tidak ditempatkan di satu lokasi lagi. Sebagian dari kami ditempatkan di udiklat Bogor dan sebagian lagi di Udiklat Jakarta. Sedih berpisah, namun kami masih bertemu di Kantor Pusat untuk Pengenalan Perusahaan.

Bagaimana kisah saat Pengenalan Perusahaan? Tunggu di postingan selanjutnya J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s