Pak Dokter Pun Diganggu Hantu

Minggu sore kemaren aku diberi tahu temanku, sebut saja namanya Heji, kalau salah seorang temanku yang berprofesi sebagai dokter di sebuah pulau kecil nan eksotis, sebut Pulau Wow mendapatkan kejadian tidak mengenakkan yang berhubungan dengan hal mistis Sabtu malam. Spontan waktu Heji mengakhiri cerita, aku langsung telepon Pak Dokter dan minta dia cerita kronologis kejadiannya. Bukannya aku empati, tapi aku malah tertawa terbahak-bahak (bukan teman yang baik, jangan ditiru ya anak-anak),bukan karena lucu, tapi jadi keinget kejadian beberapa minggu lalu pas aku diajak ke rumah pak dokter ini.

Jadi ceritanya begini, Pak Dokter itu, sebut saja Dokter Mawar (kok seperti nama korban pelecehan seksual di berita Koran ya?), eh kita pake nama dokter Nunu aja (bukan, ini bukan kak Nunu yang sering bantuin Joshua di acara televisi jaman dulu) terbangun di tengah malam sekitar jam 1 dini hari karena panggilan alam. Seketika dia bangun dan masuk ke kamar mandi. Nah pas di dalam, dia dengar pintu rumahnya ada yang gedor. Tiba-tiba dia ingat kalau akhir-akhir ini di daerah itu sedang gempar, cetar membahana kalau Syahrini bilang, kabar mistis tentang seorang yang sedang belajar ilmu hitam dan mencari korban dengan menggedor pintu warga di malam hari, yah semacam urban legend seperti Kolor Ijo kalau di Jawa lah.

Karena ingat itu, Pak Dokter pun tidak berinisiatif membuka pintu. Setelah 2 kali gedoran, pak dokter pun keluar dari kamar mandi menuju kamarnya. Segera dia telepon tetangga depan rumahnya dan bercerita mengenai kejadian barusan. Tetangga depan yang kebetulan belum pada tidur bilang bahwa sejak tadi tidak ada orang baik di luar maupun di depan rumah pak dokter. Nah lho, jadi siapa dong yang gedor pintu tadi? Eh  mungkin bukan siapa tapi apa. Hehehehehe.

Sebelum kejadian itu, Pak Dokter juga cerita ke aku kalau dia mendengar suara orang di depan rumah, tapi dia mengurungkan diri untuk melihat ke depan rumah. Alih-alih keluar untuk mengecek, Pak Dokter telepon ke beberapa tetangga apakah masih ada anggota keluarganya yang di luar rumah, dan jawaban para tetangga pun sama, semua sudah di dalam rumah, tidak ada yang keluar. Kebetulan di komplek itu cuma tinggal beberapa rumah saja yang ditempati, menambah kadar keseraman komplek itu.

Dokter Nunu ini sebenarnya bukan warga asli disitu. Dia adalah orang Jakarta yang mendapat tugas suci mencari kitab suci, eh maksudnya untuk mengabdikan dirinya menjadi Dokter di Pulau Wow. Nah karena bukan asli Pulau itu, Pak Dokter mendapatkan rumah dinas yang letaknya di belakang Puskesmas tempat dia dinas. Tapi jangan dibayangkan Puskesmas itu berada di sebuah daerah yang ramai ya. Puskesmas itu letaknya ada di pinggir jalan raya penghubung pelabuhan utama dengan kota. Jadi bisa dibilang puskesmas itu, meski statusnya puskesmas berada di daerah yang hutannya masih lebat serta masih banyak terdapat babi hutan liar, dan babi liar itupun bisa berubah menjadi manusia pas bulan purnama tiba (ah mulai ngaco kalo yang ini).

Rumah Dokter Nunu pun lokasinya tidak kalah wow nya. Komplek rumahnya ada di atas bukit di belakang Puskesmas. Meski letaknya di belakang Puskesmas persis, namun untuk menuju ke komplek perumahan itu harus berputar melewati hutan kecil yang gelap serta minim penerangan. Aku saja sampai merinding waktu diajak kesana kemaren. Aku juga sempat berfikir kenapa Pak Dokter berani melewati jalan kecil nan seram ini, karena menurut chat history kami, dia seringkali pulang malam sekitar jam 10-an malam sehabis praktek di sebuah klinik (jangan mengira klinik Tong Fang, Dokter Nunu tidak bekerja di klinik Tong Fang) yang letaknya di pusat Kota yang berjarak sekitar 45 menit dari tempat tinggalnya. Jam 7 malam pun daerah itu sudah sepi, apalagi jam 10an malam, bisa bayangkan sendiri kan.

Jadi ceritanya, malam pas aku datang di pulau itu, Heji meminta Pak Dokter untuk ikut menginap di tempatnya sekalian biar bisa ngobrol-ngobrol asyik. Pak dokter setuju dan mengajak kami berdua ke rumahnya untuk ambil pakaian. Begitu memasuki komplek perumahannya, ada sekelompok anak-anak kecil yang sedang bermain petasan di samping rumah Pak Dokter. Begitu kami sampai, kami masuk rumah dan menunggu pak dokter mengepak bajunya, sementara aku dan Heji menunggu di ruang tamu sambil mainan koteka yang menghiasi dinding rumah (eh ngapain pake main koteka coba?). Begitu Pak Dokter siap dengan barang-barangnya, kami pun keluar dan segera memasuki mobil.

Saat mobil baru berjalan beberapa meter, aku merasa heran karena suasana di luar sudah sepi dan tidak nampak anak-anak yang bermain lagi. Lalu aku bertanya ke Pak Dokter dan Heji kenapa sepi sekali , kemana anak-anak tadi. Dengan kompak mereka berdua menjawab, anak- anak yang mana? Kan dari tadi semenjak dating memang sepi. Merasa bingung aku kembali bilang bahwa tadi saat datang kan banyak anak-anak main petasan. Dan kemudian dengan bergantian mereka berdua menjawab tidak ada, dan mereka bilang mungkin aku salah lihat, soalnya dari tadi memang suasanya sepi, tidak ada anak-anak bermain petasan. Wooo, mereka pasti ngerjain aku neh, pikirku, aku yakin tadi banyak anak-anak soalnya tadi Heji masih sempat mengomentari tentang petasan yang dibawa anak-anak itu. Tapi karena aku tidak mau berfikir macam-macam aku sudahi pembicaraan itu.

Nah cerita ini bisa dijadikan pelajaran berharga buat kita semua, jangan suka ngerjain teman kita ya, ntar bisa kena batunya sendiri seperti Pak Dokter Nunu ini. Untuk Pak Dokter, segeralah cari kos di kota, biar ga seram sendirian tinggal di komplek yang makin kesini makin banyak ditinggal penghuninya (ngekos di sebelah kosan dokter gigi juga boleh :p ).

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s