Lost In Toa Payoh (Baca: Kesasar)

mrt mapKesasar, mungkin bukan hal asing bagi kita yang hobi travelling. Bisa jadi kesasar ini sudah menjadi bagian dari travelling terutama para backpacker. Namun terkadang, kesasar juga bisa menjadi suatu pengalaman menarik yang bisa menambah wawasan kita. Nah, ada satu kejadian kesasar yang pernah aku alami di saat mengunjungi negara tetangga yang memberikan wawasan menarik buatku.

Ceritanya saat itu aku dan seorang temanku mau pulang ke hotel tempat kami menginap di sekitar Balestier Rd, Novena. Mungkin karena saking capeknya, kami yang harusnya turun di stasiun MRT Novena, tidak sadar bahwa stasiun Novena sudah terlewati. Begitu sadar, kami pun memutuskan untuk turun di stasiun berikutnya, Toa Payoh. Bukan mengambil MRT balik ke arah Novena, kami malah berencana jalan kaki menuju hotel karena kami kira jarak Toa Payoh ke Balestier Rd tidaklah terlalu jauh (yang akhirnya kami ketahui ternyata jarak aslinya jauh sekali kalau ditempuh dengan jalan kaki).

Keluar dari stasiun kami asal saja menuju ke jalan, dengan berbekal konsep berfikir ruang (halah, apa pula itu), kami pun berjalan mengikuti arah peta. Namun setelah ketemu persimpangan jalan, kami pun jadi bingung, arah manakah yang mau kami ambil? lurus, ke kanan, atau ke kiri?. Akhirnya setelah lama berdebat akhirnya kami pun sepakat untuk naik bus. Kebingungan ternyata tak berhenti saat itu juga, ternyata kami juga bingung, untuk naik busnya dari halte yang mana? yang dari arah timur ke barat atau utara ke selatan?. keputusannya, kami balik ke halte yang ada di depan stasiu MRT.

Setelah membaca jalur bus, kami pun mendapatkan jalur bus yang menuju ke hotel kami. Dan ternyata bus yang harus kami tumpangi lama sekali datangnya. Nah saat menunggu di halte bus ini lah aku menemukan sebuah fenomena yang menggelitik hati. Kenapa menggelitik hati? karena fenomena yang terjadi di sini sangat berbeda 180° dengan fenomena yang ada di kotaku, Semarang.

Halte bus tempat kami menunggu itu berada di seberang sebuah komplek sekolah yang besar menurut ukuranku. Saat itu, di halte banyak sekali orang, yang aku pikir menunggu bus seperti kami. Tak berapa lama, ternyata jam sekolah berakhir, sehingga keluarlah murid-murid sekolah itu dan berlari ke arah orang-orang yang berdiri di halte bus. Oh saat itu juga aku baru sadar, ternyata, orang-orang yang menunggu di halte itu adalah orang tua/ kerabat yang menjemput siswa-siswa itu. Beberapa anak langsung menemui orang tua/ kerabat mereka di halte tersebut. Seketika tambah ramailah halte itu.

Beberapa mobil jenis MPV juga terlihat keluar dari sekolah, berisi siswa-siswa yang tidak dijemput oleh orang tua/kerabatnya. Mobil-mobil itu menggantikan fungi bus sekolah untuk antar jemput siswa yang tidak dijemput. Memang ada beberapa siswa yang dijemput mobil pribadi orang tuanya, tapi tak banyak. Itupun bukan orang tua yang parkir di pinggir jalan menunggu anaknya keluar, namun si anak menunggu mobil orang tuanya di halte.

Satu hal yang bikin aku kagum adalah tidak ada kemacetan di depan sekolah ini saat jam pulang sekolah. Bagaimana bisa tidak ada kemacetan? karena tidak ada satupun mobil pribadi milik orang tua/ kerabat siswa yang parkir di sekitar sekolahan. Dan juga bus-bus umum dengan rapi berhenti di halte yang telah di sediahkan di dua sisi jalan depan sekolahan ini.

Bandingkan dengan di Semarang. beberapa jalan raya seperti jalan Pemuda, Jalan Sultan Agung, Jalan dr Sutomo yang selalu macet oleh mobil-mobil penjemput siswa, bahkan sampe parkir di depan halte busway (alhasil Trans Semarang tidak bisa merapat di halte dan menurunkan penumpangnya agak di tengah jalan). Ditambah angkot-angkot yang berhenti sembarangan menambah kesemerawutan dan kemacetan jalan.

Hal-hal ruwet seperti di Semarang itu tidak aku temukan di salah satu kawasan sekolah di Toa Payoh ini. Padahal sekolah di Toa Payoh ini lebih besar ketimbang sekolah-sekolah yang menjadi sumber kemacetan di Semarang. Bisa jadi di Semarang itu berlaku budaya satu siswa satu mobil penjemput, jadi bayangkan jika sekolah itu memiliki 200 siswa,  ada 200 mobil yang parkir memenuhi jalan di depan sekolah.

Di sini terlihat budaya masyarakat Indonesia sendiri lah yang menyebabkan kemacetan terjadi di mana-mana. Kalau sudah seperti ini, ketegasan dari pihak berwajib dan kesadaran dari masyarakat adalah solusi terbaik untuk mengurai kemacetan di kawasan sekolah. Tidak lupa kepedulian pihak sekolah terhadap hal ini juga diperlukan, seperti penyediaan bus antar jemput, dll. Dengan adanya kepedulian dari berbagai pihak tersebut, diharapkan persepsi masyarakat tentang sekolah = sumber kemacetan tidak semakin membudaya di Indonesia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s