Aku Tidak Menyapa? Mungkin Aku Sedang Tidak Memakai Kacamata

kacamataTravelling tanpa kacamata itu seperti berjalan sendirian di ruang gelap yang minim penyinaran. Pengalaman ini pernah aku alami sekali saat aku mengunjungi Kota Sabang akhir Oktober lalu. Sekedar informasi aku adalah penderita gangguan mata minus sekitar 2,25 kanan dan kiri dan aku sudah memakai kacamata sejak masih duduk di SMP. Meski belum terlalu besar, hal ini sudah mengurangi kemampuanku mengenali wajah orang andai tidak berkacamata.

Jadi ceritanya seperti ini, saat sebelum memulai snorkeling di Pulau Rubiah, Sabang, aku menaruh kacamataku di kantong celana. Entah karena lupa atau saking semangatnya mau snorkeling, aku lupa meletakkan kacamataku di pantai sebelum menceburkan diri ke laut. Alhasil tanpa sadar aku snorkeling seharian sambil mengantogi kacamataku itu.

Selesai snorkeling aku dan dua temanku bersantai di pantai sambil menunggu boat yang menjemput kami untuk mengelilingi pulau Rubiah. Nah, pas di boat inilah aku mencari kacamataku. Aku mengingat-ingat apakah aku titipkan di tempat penyewaan alat snorkel di Pantai Iboih, atau aku titipkan di tas temanku atau dimana?. Dengan panik aku mencari di di tempat-tempat yang aku ingat. Sesampainya di Pantai Iboih aku bertanya kepada pemilik dari tempat persewaan alat snorkel dan kamera bawah laut yang sempat aku samperin tadi, tapi ternyata tidak ada juga.

Menyerah, aku pun memutuskan berhenti mencari untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah mandi dan makan cemilan aku mulai mengingat-ingat lagi dimana aku meletakkan kacamata tadi. Karena sampai siang aku belum berhasil mengingat, akhirnya kami putuskan langsung pulang ke rumah temanku untuk beristirahat. Barulah saat berada di mobil aku ingat kalau kacamata terakhir kali aku masukkan ke kantong ketika di boat menuju Pulau Rubiah. Alamak, segera aku merogoh kantung kanan dan kiri, tapi ternyata tidak ada juga. Akhirnya aku membuat kesimpulan kalau kacamata itu jatuh ketika aku snorkeling di Pulau Rubiah tadi.

Hilangnya kacamata benar-benar membuat aku sangat kerepotan. Sisa waktu mengelilingi kota Sabang aku jalani dengan keterbatasan penglihatan karena tidak memakai kacamata. Keadaan paling parah adalah saat aku mau pulang ke Semarang. Ketika sampai di bandara Sultan Iskandar Muda, kesulitan-kesulitan mulai aku temui saat akan menuju ke ruang tunggu. Saat itu, aku baru pertama kalinya menginjak terminal keberangkatan bandara tersebut, sehingga aku belum familiar dengan tempatnya.

Meski sudah memicingkan matra secara maksimal, tetap saja papan penunjuk arah di bandara tidak terbaca, dan dikarenakan aku tidak bisa membaca papan petunjuk arahnya, akhirnya aku dengan terpaksa beberapa kali tanya ke petugas mana arah ke lantai 2, mana tempat pembayaran airpot tax, mana ruang tunggu dan mana toilet.

Seperti layaknya orang kesasar, aku selalu bertanya ke orang meski ada papan petunjuk arah. Namun sekali lagi karena tidak terbaca dengan mata telanjang, akhirnya terpaksa aku sering bertanya. Jadi, tidak memakai kacamata bagi orang yang menderita mata minus seperti aku ini adalah sebuah petaka, karena aku bagai orang tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s