Bahagia Itu Sederhana

Selama ini sering ketika keluar dari bandara, aku melihat rombongan penjemput yang memenuhi pintu keluar terminal kedatangan. Dari ciri-ciri dan sikap mereka, aku beranggapan kalau mereka berasal dari luar kota Semarang, masih satu keluarga dan pastinya mereka akan menjemput salah satu kerabat mereka. Namun selama ini aku hanya bertanya-tanya dalam hati, kenapa menjemput satu orang saja harus membawa keluarga sekampung tanpa mempunyai keinginan untuk mencari jawabannya.  Hal ini dikarenakan bukan hanya karena sudah biasa lihat, tapi juga rasa di badan yang menyebabkan aku bertingkah cuek dengan keadaan sekitar.

Sampai suatu hari, ketika aku baru saja landing dan menunggu jemputan di salah satu gerai donat yg ada di bandara, secara tidak sengaja, ada kejadian yang secara langsung menjawab pertanyaan yang tak pernah aku cari jawabannya selama ini. Jadi dari tempat aku duduk, aku melihat serombongan penjemput yang merubung salah satu penumpang Garuda yang baru saja datang dari jakarta. Ketika aku amati baik-baik, penumpang itu adalah seorang wanita kira-kira usia 25an. Satu persatu penjemput tadi memeluknya. Tiba-tiba, dari arah belakang, seorang ibu lari tergopoh-gopoh menuju wanita itu. Ibu itu berlari sambil menangis, yak menangis.  Seketika ibu itu langsung memeluk erat wanita tadi dan tangisannya tambah menjadi. Dalam hati aku berkata, mungkin ibu itu adalah ibu kandug dari wanita penumpang Garuda tersebut dan sepertinya mereka sudah lama tidak bertemu, sehingga Ibu itu seketika meluapkan rasa rindunya dan syukurnya karena bisa bertemu anaknya kembali.

IMG-20121215-00755

 

Kemudian sayup-sayup aku bisa mendengar salah satu kerabat wanita itu bertanya mengenai  malaysia (dalam bahasa jawa)” kerasan opo ora, majikanmu apik?” Dan wanita itupun menjawab semua pertanyaan kerabatnya satu persatu dengan penuh senyum. Tiba-tiba dari belakang muncul lagi seorang wanita, tapi kali ini dia menggendong seorang balita. Balita itu terlihat seperti bangun tidur, dan seketika si wanita penumpang Garuda itu langsung terlihat “sumringah” (aku masih bingung mencari bahasa Indonesia untuk sumringah) lalu  menggendong balita itu serta mengajaknya bicara. Wajah wanita itu terlihat bahagia, sama seperti ibunya ketika memeluknya tadi. Sedangkan balita itu, dia diam melihat wajah wanita itu, seperti bingung mencoba mengenali siapa yang menggendongnya. Sementara, keluarga lainnya mencoba memberitahu ke balita itu kalau yang menggendongnya itu adalah Ibunya.

Mungkin moment seperti ini cukup berasa seperti sinetron. Tapi percaya deh, aku yang selalu skeptis dengan adegan sinetron, merasa terharu juga saat itu. Meski tidak kenal, epertinya kita ikut larut dalam kebahagiaan mereka. Mungkin inilah yang dinamakan bahagia itu sederhana. Bagi keluarga itu, bahagia adalah ketika bertemu salah satu keluarganya setelah sekian lama terpisah.

Dari kejadian itu aku beranggapan, wanita itu adalah seorang pahlawan devisa yang bekerja di Malaysia dan balita yang digendongnya itu adalah anaknya yang diasuh oleh keluarganya di rumah. Entah sudah berapa lama dia bekerja di malaysia, sampai-sampai keluarga begitu merindukannya dan anaknya tidak bisa mengenalinya. Inilah potret seorang Ibu yang rela berkorban, berjuang mencari penghidupan untuk keluarganya. Dimana suaminya? Entah, saat itu tidak ada sosok laki-laki yang bersikap atau mengindikasikan dia adalah suami dari wanita itu. Yang ada adalah lelaki tua yang aku kira adalah kerabatnya.

Peristiwa mengharukan ini benar-benar membuka mataku, selama ini aku terkesan sering mencemooh para penjemput yang beramai-ramai memenuhi pintu kedatangan untuk menjemput satu orang. Dan aku mengingatkan diri sendiri untuk tidak mencemooh rombongan seperti mereka lagi, karena dengan mencemooh mereka, berarti kita tidak suka melihat kebahagian mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s