Trip ke Jepang : Persiapan

IMG_20150628_100856

Sekitar akhir bulan April sampai awal bulan Mei kemarin, aku dan kawan-kawan perjalananku akhirnya sukses backpacker-an ke Jepang. Persiapan ke Jepang ini mungkin bisa jadi merupakan persiapan paling panjang dan penuh deramah yang pernah kami lakukan. Awalnya dulu ketika pertama diiming-imingin tiket murah ke Jepang, agak sedikit tidak pede, karena sering dapat cerita dr orang lain kalo disana itu biaya hidup mahal. Tapi berkat kegigihan seorang Indriyanto Nugroho yang ga pernah capek meyakinkan kami dengan sejuta planningnya, akhirnya Aku, Cindut, Imong , Henong dan Ncung teracuni juga.

Tiket ke Jepang sudah dibeli jauh2 hari sebelumnya, hampir setahun sebelum keberangkatan, sehingga dapat murah. Yah seperti banyak backpacker-backpacker lainnya, karena nyari murah jadi kami dpt penerbangan malam. Seperti biasa pula, maskapai yang rajin memberikan tiket promo adalah Air Asia. Menggunakan Air Asia untuk ke KL nya dan selanjutnya berganti Air Asia X untuk ke Jepang nya. Oh iya, sebelumnya sempet terbersit rasa takut akibat musibah jatuhnya AA tahun kemaren, tapi yah, namanya musibah bisa terjadi kapan aja, jadi lupakan ketakutan itu.

Jadi, apa yang kami siapkan selama jeda waktu sebelum keberangkatan ke jepang?

  1. Visa, WNI masih membutuhkan Visa untuk masuk ke Jepang. Pembuatan Visa dapat langsung mengurus sendiri dengan datang ke Kedubes/ Konsulat Jepang yang ada di Indonesia ataupun lewat biro perjalanan. Satu-satunya orang yang berhasil mengurus visa sendiri ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta itu Ncung, dia sampe rela datang ke Jakarta buat antri bikin Visa. Yang lain, Indro, Imong, Cindut, Henong semuanya mengurus Visa melalui biro perjalanan.
  2. E-Passport, buat kalian yang sudah punya E-Passport, kalian ga perlu lho ngurus Visa, karena Jepang membebaskan Visa buat WNI yang punye E-Passport, ga tanggung-tanggung lho kita bias keluar masuk Jepang selama 3 tahun kalo punya E-Passport. Jangan lupa daftarkan E-Passport kita ke Kedubes sebelum berangkat. Nah aku memilih bikin E-Passport ketimbang Visa.
  3. JR Pass. Ini merupakan tiket kita untuk mengelilingi Jepang dengan transportasi kereta, termasuk kereta kondang Shinkansen. Harga JR Pass memang terlihat mahal, kami membeli untuk 7 hari dg harga kurang lebih sekitar 3 juta Rupiah. Sebenernya kita bisa menggunakan tiket biasa yang bisa dibeli di mesin tiket, namun jatuhnya akan lebih mahal kalo dihitung-hitung.
  4. Mata uang Jepang ini nilai tukarnya sangat murah, 1 Yen saat itu sekitar Rp. 108 kami dapat. Dan itu kami dapat di Bank Mandiri Padang (tx to Ncung yang berhasil nemu tempat termurah nuker uang).

IMG_20150628_100513IMG_20150628_100856

E-passport & JR Pass

Selain 4 hal di atas, itinerary jelas dibutuhin untuk kita yang suka jalan tanpa pake biro travel. Itinerary hebat kami disusun oleh Indrow yang dengan sabar merevisi sesuai dengan keinginan kami, dan mendapat komentar gila dari penduduk Jepang karena menelusuri dari Tengah ke Utara balik ke Tengah lagi. Kami juga membawa banyak jaket dan kaos kaki dikarenakan mesti sudah bulan April mendekati Mei, suhu di jepang masih lumayan dingin buat orang Indonesia.

Deramah-deramah kecil mewarnai persiapan kami sebelum berangkat ke Jepang. Seperti pemilihan tempat wisata, pembagian tugas bawa barang, dll. 2 hal yang paling deramah adalah pemilihan mau masuk Disneyland atau Disneysea? Serta mau bawa rendang kering berapa kilo?. Seperti kita ketahui, di Jepang tidak hanya memiliki Disneyland, tapi juga Disneysea yang letaknya bersebelahan dan sama-sama menariknya. Dan rendang, meski lama banget berdebat mau bawa berapa kilo, akhirnya ga jadi bawa. Mie instan, boncabe, sambel ABC adalah makanan kering yang akhirnya sukses kami bawa.

Hari H tiba, kami pun berangkat dari kota kedudukan kami masing-masing. Aku dan Imong dari Jakarta, Indrow dan Cindut dari Makassar ke Surabaya dulu nyamperin Henong. Dan pesawat kami sama-sama berangkat sekitar sore hari menuju KL. Yang emezing, Ncung dr Pekanbaru udah terbang duluan ke KL dari jam 11 siang dan dia memutuskan untuk ke Batu Cave selagi menunggu kami landing di KLIA2. Jam 9 malam waktu KL, kami sudah berkumpul rapi di Marrybrown untuk membagi uang Yen. Kenapa Marrybrown? Karena kami suka dengan laksa disitu, tapi sayangnya saat itu sudah sold out jadi kami makan kentang saja. Penerbangan kami ke Jepang adalah sekitar jam 1 dini hari, jadi kita tegambui selama 4 jam keliling-keliling bandara baru KLIA2.

PhotoGrid_1430306276175C360_2015-04-29-22-14-18-347C360_2015-04-29-21-48-22-403IMG_20150429_230227

tegambui @KLIA2

Kemana saja kami pas di Jepang? daan keseruan apa yg kami dpt selama di Jepang? Bersambung di postingan berikutnya ….

6 Comments

  1. Hi salam kenal..
    Saya Irma dari Makassar😦
    Mau tanya temannya yg dr Makassar ke KL itu pake epassport juga? Soalnya setau saya imigrasi disini belum bisa epassport.
    Dan waktu berangkat ke KL apakah ada imigrasi khusus utk epassport atau di tempat yang sama dengan yg pake paspor biasa? Karena hanya 1 imigrasi tempat pemeriksaan paspor di depan gatenya Air Asia.
    Tolong dibantu info ya, soalnya saya juga mau ganti paspor ke epassport, kalau memang bisa di imigrasi makassar aja, ga usah ke jkt/sby biar irit🙂
    Many thanks sebelumnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s